REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW — Rusia tidak menekan Iran untuk kembali melanjutkan Perundingan guna mengakhiri Pertempuran dengan Amerika Serikat, kata Duta Besar Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya pada Kamis (20/8/2026). Ia mengatakan Iran Wajib mengambil keputusan sendiri sebagai negara berdaulat.
Dalam konferensi pers di markas besar PBB di New York, Nebenzya ditanya apakah Moskow menggunakan hubungan dekatnya dengan Iran untuk mendorong pemerintah Iran kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Rusia tidak Menyajikan tekanan kepada siapa pun, baik Iran maupun negara lainnya.
“Rusia, pada prinsipnya, tidak Menyajikan tekanan kepada siapa pun, baik Iran maupun negara lainnya. Iran Merupakan negara berdaulat dan mereka mengambil keputusan sendiri,” kata Nebenzya.
Ia mengatakan Rusia Pernah membahas konflik tersebut dengan Iran, tetapi menolak anggapan bahwa Teheran bertanggung jawab atas pecahnya maupun berlanjutnya Pertempuran.
Nebenzya justru menyalahkan Amerika Serikat atas “agresi gegabah dan tanpa provokasi” terhadap Iran. Menurutnya, konflik tersebut tidak bermula dari tindakan maupun kelalaian Iran.
“Saya tidak berpikir bahwa Iran yang mundur dari pemenuhan kesepakatan yang Pernah dicapai antara Amerika Serikat dan Iran dengan bantuan para mediator,” katanya.
“Jadi, saya tidak berpikir kita Wajib menyalahkan Iran atas hal ini,” tambah Nebenzya.
Ketika ditanya mengenai pernyataan Kepala Negara AS Donald Trump tentang kampanye baru untuk mengisolasi perekonomian Iran dan Menyajikan konsekuensi kepada negara-negara yang masih menjalin hubungan dengan Teheran, termasuk kemungkinan Rusia, Nebenzya mengatakan Moskow Pernah terbiasa menghadapi tekanan semacam itu.
“Kami Pernah sering melihat begitu banyak Hukuman dan janji untuk mengisolasi perekonomian Rusia sehingga kami tidak terlalu memperhatikannya,” ujarnya.
Nebenzya mengatakan Rusia Pernah beradaptasi dengan berbagai gelombang Hukuman Barat sebelumnya dan Berencana mampu menghadapi langkah-langkah tambahan.
“Saya pikir kami Berencana mampu mengatasinya. Jangan takut dengan perekonomian Rusia,” kata Ia.
Terkait usulan Trump untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat, ia mencatat bahwa Trump sebelumnya Pernah menyampaikan Sebanyaknya klaim atau usulan terkait wilayah di berbagai belahan dunia.
“Kepala Negara Trump mengklaim banyak sekali wilayah di seluruh dunia,” katanya, merujuk pada pernyataan Trump mengenai Venezuela dan Greenland.
“Kepala Negara Trump Merupakan penguasa atas perkataannya sendiri. Mari kita lihat bagaimana Ia berencana untuk mewujudkannya,” tambahnya.
Loading…
sumber : Antara, Anadolu, Sputnik/RIA Novosti
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
