Di Balik Pakta Makkah: Drone, Konflik Bersenjata Elektronik, dan Jenderal di Pusat Komando


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengerahan pasukan Turki dan Pakistan ke Arab Saudi hanya memperlihatkan satu lapisan dari Pakta Makkah. Di balik keputusan tersebut, tiga negara Di waktu ini Bahkan sedang membangun sesuatu yang jauh lebih kompleks: mekanisme politik-militer bersama, Lini pertahanan udara, sistem nirawak, Konflik Bersenjata elektronik, kecerdasan buatan, Sampai sekarang pengembangan senjata secara bersama.

Pada saat yang sama, sebuah sekretariat permanen Di waktu ini Bahkan sedang dibangun di Riyadh. Di pusat struktur baru itulah muncul nama pensiunan Letnan Jenderal Pakistan Nauman Mahmood, perwira dengan latar belakang komando lapangan, intelijen, teknologi komunikasi, dan pendidikan strategis militer.

Reuters melaporkan sejak Agustus bahwa Arab Saudi, Turki, dan Pakistan tidak merancang Makkah Joint Defense Agreement sekadar sebagai janji saling Mendukung ketika salah satu diserang. Ketiganya menyiapkan mekanisme permanen yang mempertemukan para menteri luar negeri, menteri Lini pertahanan, dan pimpinan militer untuk mengoordinasikan kebijakan keamanan.

Agenda militernya pun melampaui pengerahan tentara. Menurut Reuters, rencana kerja sama mencakup latihan bersama di darat, laut, dan udara, koordinasi Lini pertahanan udara, sistem nirawak, peperangan elektronik, serta pengembangan dan produksi bersama teknologi Lini pertahanan.

Kecerdasan buatan dan sistem otonom Bahkan masuk dalam pembicaraan. Dengan demikian, Pakta Makkah mulai mengambil bentuk sebagai ekosistem Lini pertahanan yang menggabungkan pasukan, teknologi, industri senjata, dan mekanisme pengambilan keputusan.

Drone menjadi salah satu kunci

Turki mempunyai posisi khusus dalam skema itu. Negara anggota NATO tersebut dalam beberapa tahun terakhir tumbuh menjadi salah satu eksportir drone militer penting dunia, sementara Saudi dan Pakistan sama-sama Pernah membangun hubungan erat dengan industri Lini pertahanan Ankara.

Tagesschau/ARD beberapa waktu lalu melaporkan perusahaan Turki Baykar Pernah menjual drone kepada Arab Saudi Serta terlibat dalam produksi di kerajaan tersebut. Pakistan Bahkan mengoperasikan drone buatan Baykar dan membangun Sebanyaknya kapal Konflik Bersenjata Sesuai aturan desain Turki.

Keterhubungan itu membuat kerja sama Pakta Makkah berbeda dari aliansi yang baru mulai menyatukan sistem senjatanya dari nol. Sebanyaknya jalur kerja sama industri dan teknologi di antara anggotanya Pernah terjadi terbentuk sebelum kesepakatan trilateral ditandatangani.

Turki Bahkan mempunyai kepentingan ekonomi besar dalam ekspansi tersebut. Tagesschau mencatat industri Lini pertahanan Turki membukukan Perdagangan Keluar Negeri senilai sekitar 10,05 miliar USD AS pada tahun sebelumnya, naik hampir separuh dibandingkan 2024, dengan drone menjadi salah satu produk andalannya.

Bagi Arab Saudi, teknologi tersebut mempunyai relevansi langsung. Kerajaan menghadapi ancaman rudal dan drone dari berbagai arah, terutama setelah konflik dengan Houthi di Yaman kembali meningkat.

Associated Press melaporkan Houthi dalam beberapa pekan terakhir Memanfaatkan serangan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone terhadap fasilitas minyak, bandara, serta instalasi militer Saudi. Ancaman semacam itu membuat integrasi Lini pertahanan udara dan sistem nirawak menjadi kebutuhan operasional, bukan lagi semata proyek jangka panjang.

Konflik Bersenjata elektronik

Komponen lain yang lebih jarang dibicarakan Merupakan Konflik Bersenjata elektronik. Reuters secara eksplisit memasukkan electronic warfare sebagai salah satu sektor koordinasi Lini pertahanan yang direncanakan tiga negara.

Peperangan modern tidak lagi hanya bergantung pada jumlah tank, jet tempur atau rudal. Kemampuan mengacaukan komunikasi lawan, melumpuhkan navigasi drone, mendeteksi emisi radar, dan melindungi jaringan komunikasi sendiri dapat menentukan apakah sistem senjata dapat bekerja ketika serangan berlangsung.

Di sinilah kombinasi kemampuan ketiga negara menjadi menarik. Turki membawa basis teknologi dan industri Lini pertahanan, Pakistan memiliki pengalaman operasi militer dan struktur angkatan bersenjata besar, sedangkan Saudi mempunyai sumber daya keuangan sekaligus kebutuhan mendesak untuk melindungi infrastruktur energi, bandara, kota, dan fasilitas strategisnya.

 


Loading…


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version