REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketika Amerika Serikat dan Iran kembali membuka ruang Politik Luar Negeri untuk mengakhiri Pertempuran yang Pernah berlangsung sekitar tujuh bulan, perhatian kembali tertuju pada sebuah negara kecil di Teluk: Bahrain.
Iran pada Rabu (30/9/2026) menyatakan Pernah menerima respons resmi Amerika Serikat terhadap proposal terbarunya untuk mengakhiri Pertempuran. Proposal Teheran sebelumnya mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dengan Sebanyaknya syarat, termasuk pelonggaran tekanan ekonomi dan blokade terhadap Iran. Rincian respons Washington belum diumumkan kepada publik.
Di saat Politik Luar Negeri kembali bergerak, Bahrain memperdalam integrasi militernya dengan Washington. Manama Pernah berkomitmen bergabung dengan Task Force Falcon Strike, satuan tugas multinasional Komando Pusat AS atau CENTCOM yang dirancang mengoperasikan drone serang di udara, permukaan laut, dan bawah laut.
Komitmen itu diumumkan setelah pertemuan militer AS-Bahrain pada 23–24 September. Bahrain Bahkan menyatakan Berencana membeli lebih banyak amunisi dan sistem Lini belakang udara buatan Amerika Serikat.
Keputusan itu menjadi penting karena Bahrain bukan sekadar salah satu sekutu Washington di Teluk. Di negara kepulauan kecil itulah Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat bermarkas.
Ketika konflik Iran-AS meluas sepanjang 2026, keberadaan pangkalan tersebut membuat Bahrain berada sangat dekat dengan pusat pertarungan.
Negara Kecil, Markas Armada Besar
Secara geografis Bahrain jauh lebih kecil dibandingkan Arab Saudi atau Iran. Sekalipun demikian nilai strategisnya tidak ditentukan oleh luas wilayah.
Naval Support Activity Bahrain menjadi markas U.S. Naval Forces Central Command dan Armada Kelima Angkatan Laut AS. Dari Bahrain, Washington menjalankan operasi maritim di kawasan Teluk, Laut Arab, Laut Merah, dan jalur-jalur perairan strategis di sekitarnya.
The National melaporkan sekitar 40 ribu personel Amerika biasanya ditempatkan di kawasan Teluk. Pertempuran melawan Iran kemudian memperlihatkan kerentanan jaringan pangkalan tersebut setelah serangan Iran merusak atau menghancurkan ratusan bangunan dan struktur di fasilitas AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania.
Bahrain karena itu mempunyai fungsi ganda. Bagi Amerika Serikat, negara tersebut merupakan simpul komando dan logistik maritim. Bagi Iran, keberadaan pusat operasi militer Amerika di wilayah Bahrain membuat negara itu sulit dipisahkan dari kalkulasi konflik dengan Washington.
Inilah salah satu alasan mengapa Bahrain yang kecil di peta mempunyai bobot yang jauh lebih besar dalam strategi keamanan Teluk.
Loading…
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
