REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) membuka 71 dokumen pengarahan rahasia Kepala Negara yang memperlihatkan bagaimana intelijen AS melacak Osama bin Laden dan Alqaidah selama bertahun-tahun sebelum serangan 11 September 2001.
Dokumen tersebut mengungkap bahwa kekhawatiran mengenai serangan di wilayah Amerika Serikat, pembajakan pesawat, Sampai sekarang kemungkinan penggunaan pesawat bermuatan bahan peledak Sebelumnya muncul jauh sebelum empat pesawat dibajak pada pagi 9/11.
CIA mendeklasifikasi dokumen-dokumen tersebut pada Jumat, 11 September 2026, bertepatan dengan peringatan 25 tahun serangan yang menewaskan hampir 3.000 orang. Badan tersebut menyebutnya sebagai pelepasan terbesar President’s Daily Brief (PDB) terkait 9/11 yang pernah dilakukan CIA.
PDB merupakan salah satu produk intelijen paling sensitif pemerintah Amerika. Laporan tersebut disusun komunitas intelijen untuk Kepala Negara dan Sebanyaknya kecil pejabat paling senior pemerintahan.
Direktur CIA John Ratcliffe menyebut pelepasan 71 dokumen tersebut sebagai “tindakan transparansi yang Unggul”. Lebih dari 100 halaman analisis CIA yang sebelumnya dirahasiakan Saat ini Bahkan dapat dibaca publik, sebagaimana diberitakan Sebanyaknya media Amerika.
Dokumen-dokumen itu tidak menunjukkan bahwa pemerintah Amerika Sebelumnya mengetahui secara spesifik waktu, Tempat, dan metode serangan 11 September. Berbeda dari, arsip tersebut memperlihatkan semakin kuatnya sinyal ancaman Bin Laden dan jaringan Alqaidah dalam beberapa tahun menjelang serangan.
Jejak itu bahkan dapat ditelusuri setidaknya Sampai sekarang Februari 1998. Salah satu PDB bertanggal 13 Februari 1998 berjudul “Terrorists Seeking WMD Capability”. Dokumen yang disiapkan pada masa pemerintahan Kepala Negara Bill Clinton tersebut membahas upaya Bin Laden dan kelompok ekstremis lainnya memperoleh kemampuan senjata pemusnah massal.
Beberapa bulan kemudian, perhatian intelijen Amerika terhadap Bin Laden semakin intensif. Laporan April 1998 menggambarkan keengganan Taliban menyerahkan Bin Laden yang saat itu berada di Afghanistan.
Menurut laporan tersebut, Taliban memandang Bin Laden sebagai “tamu” dan masih mengingat dukungannya ketika Afghanistan menghadapi pendudukan Soviet. Kondisi tersebut membuat Taliban enggan mengawasi atau membatasi kegiatannya secara ketat.
Pada Juni 1998, CIA Sebelumnya menyusun laporan mengenai kemungkinan target serangan anti-Amerika oleh Bin Laden. Sebulan kemudian, laporan lain secara eksplisit membahas informasi bahwa Bin Laden merencanakan serangan di dalam Amerika Serikat.
Analisis Juli 1998 menyebut masuk akal Bila Bin Laden Menyajikan prioritas tinggi terhadap serangan di wilayah Amerika. Intelijen Bahkan mencatat ketertarikannya pada penggunaan agen kimia dan biologis.
Yang lebih mencolok muncul beberapa bulan kemudian. Pada September 1998, salah satu pengarahan intelijen menyebut pilihan yang disukai Bin Laden Merupakan menyerang Amerika di wilayahnya sendiri, termasuk Washington. Dokumen itu bahkan memunculkan kemungkinan bahwa jaringan tersebut dapat menerbangkan pesawat bermuatan bahan peledak ke sebuah kota di Amerika.
Peringatan mengenai pesawat kembali muncul pada Desember 1998. Sebuah PDB membahas persiapan jaringan Bin Laden untuk membajak pesawat Amerika dan melakukan serangan lainnya. Intelijen melaporkan Sebanyaknya konspirator Sebelumnya berhasil melewati pemeriksaan keamanan ketika melakukan semacam uji coba di sebuah bandara New York yang tidak disebutkan namanya.
Dokumen tersebut Bahkan menyatakan Sebanyaknya anggota jaringan Bin Laden Sebelumnya memperoleh pelatihan pembajakan. Rangkaian laporan itu menjadi penting bila dibaca dari perspektif 25 tahun kemudian. Pada 11 September 2001, 19 anggota Alqaidah membajak empat pesawat komersial. Dua pesawat diterbangkan ke menara World Trade Center di New York, satu menghantam Pentagon, sedangkan pesawat keempat jatuh di Pennsylvania setelah penumpang melawan para pembajak.
Berbeda dari, dokumen yang baru dibuka memperlihatkan bahwa ancaman pesawat dan pembajakan Kenyataannya Pernah masuk dalam radar intelijen Amerika beberapa tahun sebelumnya.
Loading…
sumber : Antara
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











