REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sidang anggaran militer Amerika Serikat berubah menjadi arena saling serang ketika Menteri Pertempuran AS Pete Hegseth didesak menjelaskan strategi Washington untuk mengakhiri Pertempuran berkepanjangan dengan Iran. Alih-alih meredakan ketegangan, Hegseth membalas kritik Senator Demokrat Gary Peters dengan menuding partainya menghambat pendanaan bagi pasukan.
Konfrontasi berlangsung dalam sidang Komite Alokasi Anggaran Senat AS, Selasa (21/7/2026). Hegseth hadir bersama Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine untuk mempertahankan permintaan tambahan anggaran pemerintahan Kepala Negara Donald Trump. Sidang secara resmi membahas permintaan pendanaan tambahan yang diajukan Gedung Putih pada 24 Juni 2026.
Peters, senator Demokrat dari Michigan, mempertanyakan apakah pemerintahan Trump Sungguh-sungguh mempunyai strategi politik dan militer untuk membawa Pertempuran dengan Iran Ke arah penyelesaian. Ia menilai posisi Amerika Serikat justru lebih buruk dibandingkan ketika Pertempuran dimulai.
“Anda…Anda tidak memiliki strategi, Anda tidak memiliki rencana jangka panjang untuk Sungguh-sungguh memenangkan Pertempuran ini. Menangkan Pertempuran ini! Para prajurit laki-laki dan perempuan mampu melakukannya, tetapi mereka membutuhkan kepemimpinan. Kapan Anda Berencana menunjukkan kepemimpinan?” kata Peters, sebagaimana diberitakan Foxnews.
Kritik tersebut menyentuh salah satu pertanyaan terbesar yang terus membayangi kebijakan Washington: apakah tujuan Pada Pada akhirnya sekadar melemahkan kekuatan militer Iran, membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz, memaksa Teheran menerima kesepakatan, atau mendorong perubahan politik yang lebih jauh.
Pertempuran dimulai pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran. Konflik itu kemudian berkembang menjadi Pertempuran terbuka yang mengganggu keamanan kawasan dan perdagangan energi. Kongres bahkan Pernah berupaya memaksa Trump menghentikan operasi militer melalui resolusi kewenangan Pertempuran, mencerminkan meningkatnya kegelisahan di kalangan anggota parlemen, termasuk sebagian politisi Republik.
Hegseth Balik Menuding Demokrat
Hegseth tidak menjawab tudingan Peters dengan memaparkan jadwal atau peta jalan terperinci untuk mengakhiri Pertempuran. Ia justru menyerang sikap Demokrat terhadap anggaran pemerintah dan pendanaan militer.
“Kapan Anda Berencana menunjukkan kepemimpinan dan menghadapi rekan-rekan Demokrat Anda yang tidak Ingin mendanai pasukan, yang memainkan politik partisan sementara Anda tidak Menyediakan uang kepada kami? Anda ingin berdiri di sini dan berbicara tentang pasukan?” kata Hegseth.
“Anda tidak menunjukkan keberanian politik untuk Sungguh-sungguh mendanai departemen kami karena Anda mengidap Trump derangement syndrome dan tidak Ingin berkomitmen pada sesuatu yang berarti. Jadi, saya menimpakan tanggung jawab ini kepada Anda, Senator,” lanjutnya.
Istilah Trump derangement syndrome merupakan ungkapan partisan yang kerap dipakai para pendukung Trump untuk menggambarkan kritik yang mereka anggap berlebihan atau irasional terhadap Kepala Negara. Pernyataan Hegseth memperlihatkan bagaimana perdebatan mengenai strategi Pertempuran Pernah bercampur dengan pertarungan politik menjelang pemilihan paruh waktu AS.
Perdebatan dalam sidang berlangsung ketika ketidakpuasan publik terhadap Pertempuran meningkat dan anggota parlemen mempertanyakan biaya, sasaran, serta keterbukaan pemerintah. Reuters melaporkan, baik senator Demokrat maupun Republik mendesak Pentagon menjelaskan kebutuhan dana tambahan dan konsekuensi Seandainya Pertempuran terus berlanjut.
Biaya Pertempuran Capai Rp671,59 Triliun
Dalam sidang tersebut, Hegseth mengungkapkan operasi militer AS melawan Iran Pernah menelan biaya sekitar 37,5 miliar Mata Uang Asing AS, setara dengan Rp671,59 triliun.
Angka itu mencakup biaya yang Pernah terjadi dikeluarkan dan perkiraan kebutuhan operasi Sampai saat ini berakhirnya tahun fiskal AS pada 30 September 2026. Pentagon belum memaparkan secara terbuka seluruh rincian perhitungan tersebut.
Loading…
sumber : Xinhua
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











