Bisnis  

Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Ingatkan Imbas Tarif Trump ke RI: Pengurangan Tenaga Kerja Naik dan Ketidakstabilan Ekonomi


Jakarta, CNN Indonesia

Wakil Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, Hanif Dhakiri mengingatkan Sebanyaknya dampak buruk terhadap ekonomi dalam negeri imbas tarif baru yang dikenakan Kepala Negara AS, Donald Trump terhadap produk Indonesia.

Hanif menilai kenaikan tarif yang total mencapai 42 persen itu bisa berpotensi terhadap kenaikan Ketidakstabilan Ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat. Dampak itu belum termasuk pada potensi pemutusan hubungan kerja (Pengurangan Tenaga Kerja) yang meluas.

“Dampak tarif baru AS bisa meluas kalau tidak segera direspon memadai, seperti Produk Ekspor yang turun, Pengurangan Tenaga Kerja meningkat, Ketidakstabilan Ekonomi naik, dan daya beli melemah,” kata Hanif dalam keterangannya, Kamis (3/4).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia karena itu meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis. Terlebih Pada Saat ini Bahkan, Uang Negara Indonesia Bahkan terus terkontraksi ke Rp16.675 per Mata Uang Asing, meski Lembaga Keuangan Pusat Pernah intervensi dengan lebih dari USD 4,5 miliar cadangan devisa.



“Strategi moneter sangat penting yang tepat sangat penting. Tapi kalau strategi fiskal dan sektor riil tak diperkuat, ekonomi kita bisa limbung,” katanya.

Hanif mengusulkan pembukaan pasar Produk Ekspor ke negara-negara BRIICS dan Afrika, serta penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan industri lokal berbahan baku dalam negeri. Di sisi lain, menurutnya, Penanaman Modal SDM Bahkan diperlukan, termasuk tenaga kerja migran yang menyumbang devisa USD 14 miliar tahun lalu.

“Mereka bukan beban, tapi kekuatan. Kalau dikelola serius, lima sampai sepuluh tahun ke depan mereka Mungkin pilar Keadaan Ekonomi Negara,” ujar Menteri Ketenagakerjaan RI periode 2014-2019 ini.

Per 2 April lalu, AS resmi memberlakukan tarif dasar 10 persen plus tambahan 32 persen untuk Indonesia. Produk Ekspor Indonesia ke AS tahun lalu mencapai USD 31 miliar (sekitar Rp500 triliun), dengan produk utama seperti alas kaki, tekstil, minyak nabati, dan alat listrik.

(thr/ugo)


[Gambas:Video CNN]


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version