loading…
Foto bersama Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar beserta nara sumber dalam acara BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Pada saat ini, cerita keterisolasian itu berangsur menjadi kenangan masa lalu. Kehadiran infrastruktur telekomunikasi yang dibangun Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Berhasil mengikis wilayah tanpa sinyal (blank spot) di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Langkah ini tak hanya memangkas kesenjangan digital, tetapi Bahkan Mengoptimalkan layanan publik di sektor pendidikan dan kesehatan serta merangsang Peningkatan Ekonomi kawasan secara signifikan.
Mengubah Wajah Layanan Kesehatan dan Pendidikan
Dampak nyata konektivitas internet dirasakan langsung oleh sektor pelayanan publik mendasar di daerah. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Flores Timur, Silvester Suban Toa Kabelen, mengungkapkan bahwa kondisi geografis daerahnya yang berbukit-bukit sebelumnya menjadi tantangan berat bagi transmisi sinyal.
“Di masa lampau, untuk mengirim laporan dinas saja kami Wajib berjalan berkilo-kilo meter. Bertolak belakang dengan, terima kasih kepada BAKTI yang Sebelumnya menghadirkan 6 BTS dan 262 titik akses internet di berbagai fasilitas publik di Flores Timur. Dari 250 desa, Pada saat ini tersisa sedikit wilayah blank spot yang terus kita dorong penuntasannya,” ujar Silvester dalam forum BAKTI Media Connect 2026 bertema “Memeratakan Akses Informasi ke Penjuru Negeri” di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Manfaat ini diakui langsung oleh Kepala UPTD Puskesmas Ilebura, Yohanes Noda Kwuta. Sebelum adanya jaringan internet BAKTI, rujukan medis dan pelaporan data kesehatan pasien dilakukan secara terbatas dan memakan waktu lama.
“Setelah BAKTI masuk, koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan penanganan pasien rujukan menjadi jauh lebih Ekonomis. Kami mengampu jejaring Sampai saat ini desa-desa di kaki gunung, Menyajikan 48 titik yang mencakup 16 posyandu, 7 poslindes, Sampai saat ini sekolah-sekolah di wilayah kami,” tutur Yohanes.
Di bidang pendidikan, Kepala SMAN 1 Titehena, Konrardus Kudarto, menceritakan bagaimana kehadiran penyedia layanan internet mengubah proses belajar-mengajar. “Sebelumnya kami sangat kesulitan mengurus administrasi sekolah, Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA), Sampai saat ini tes kompetensi guru yang semuanya membutuhkan jaringan internet stabil. Kehadiran infrastruktur BAKTI sangat Membantu kelancaran layanan pendidikan kami,” ungkapnya.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











