Jakarta, CNN Indonesia —
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat posisi Indonesia masih tekor transaksi dengan tiga negara utama. Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia surplus US$41,05 miliar sepanjang 2025 (Januari-Desember).
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan ketiga negara penyumbang defisit terbesar ke dalam negeri tersebut Merupakan China, Australia dan Brasil.
“China penyumbang defiist terdalam, Dikenal sebagai US$22,17 miliar. Komoditasnya mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya,” kata Ateng dalam Konferensi Pers, Senin (2/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan, Australia menyumbang defisit sebesar US$4,88 miliar dengan Barang Dagangan serealia, bahan bakar mineral dan bijih logam, terak dan abu. Lalu, Brasil menyjmbang defisit US$1,76 miliar dengan Barang Dagangan ampas dan sisa makanan industri Sampai saat ini kapas.
Sementara itu, negara penyumbang surplus terbesar ke dalam negeri Merupakan Amerika Serikat (AS) sebesar US$21,12 miliar, India sebesar US$13,62 miliar dan Filipina sebesar US$8,33 miliar.
Lima Barang Dagangan penyumbang surplus secara kumulatif Merupakan lemak dan minyak hewani/nabati; bahan bakar mineral; besi dan baja; nikel dan barang daripadanya; serta alas kaki.
Sedangkan, Barang Dagangan penyumbang defisit Merupakan mesin dan peralatan mekanis; mesin dan perlengkapan elektrik; plastik dan barang dari plastik; instrumen optik, fotografi, sinematografi dan medis; serta serealia.
Untuk selama Desember 2025 saja, neraca perdagangan mengalami surplus US$2,51 miliar. Surplus berasal dari transaksi perdagangan sektor nonmigas senilai US$4,60 miliar, sektor migas defisit US$2,09 miliar.
Surplus ini terjadi karena kinerja Perdagangan Keluar Negeri yang tercatat US$26,35 miliar lebih tinggi dari Produk Impor yang tercatat US$23,83 miliar per Desember 2025.
(ldy/ins)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











